Sahabat: ukiran kisah hangat, memikat, mengikat erat #1

Menjalani takdir sebagai makhluk sosial menuntut aku untuk hidup bermasyarakat, sebuah kehidupan yang aku jalani dengan berinteraksi dengan keluarga, kerabat, teman, sahabat, dan masyarakat (tetangga, orang-orang di pasar, siapa saja yg pernah, at least, aku sapa ☺).

Interaksi sosial di rumah bersama keluarga berjalan sangat baik mengingat betapa cerewet orang-orang di rumah (dan sepertinya itu menurun kepadaku). You know, we share everything… dari hal sangat penting hingga ga penting sama sekali. That makes us family, a happy family with a forever-nagging father 😂, mother: my unbeatable competitor, and an annoying little brother.

Jika ada tempat sejenak untuk lari dari hingar bingar interaksi sosial di rumah, maka jawabannya hanya satu: SEKOLAH. Ya, tempat yang bagi sebagian orang mengerikan tapi tidak bagiku. Berada di lingkungan sekolah sangatlah menyenangkan tentu saja bersama interaksinya. Dan yang paling dahsyat, interaksi bersama sahabat.

Pribadi yang kuat sedikit banyak dipengaruhi oleh sahabat, sebuah pembenaran dan kesimpulan setelah melihat karakter sahabat-sahabat ku ada di dalam diriku. Dan sifat gilaku, setelah aku melakukan penelitian tindakan kelas #ehhh, dipengaruhi oleh seseorang bernama Evan, seorang eksentrik (hingga sekarang) yang aku kenal dari bangku SMP dan SMA. We attended the same school.

Being able to know him is a blessing for me despite his insane behavior 😁. We both shared the same interests: subjects (history and language), music, and gossiping. Hahahahahahaaaaa. Fell in love with history led him to another love, Russia. Yes, he knew everything about this country, just ask him. His craziness over Russia (I prefer to use craziness to obsession) brought an unforgettable catastrophy for me. He named me Ratna Kutznetsova, a Russian baptized name,  and I had to call him Victor Ivanov. Crazy right, but that was him 🙈🙈🙈

My silly Victor Ivanov creatively created an imaginary country, El Magnifico. He was the president, the only-and forever president. Pernah aku bertanya, kenapa namanya El Magnifico, he didn’t answer me. Later, I found the reason myself once I watched Tom and Jerry on TV. Jerry, the mouse, hiding place was a tiny hole with el manifique written on its wall. Mr. Ivanov didn’t act as a president only he also composed an anthem, the national anthem of El Magnifico, at the same time I couldn’t resist his offer as the state singer. Oh my god, see… I went crazy because of him. This is the lyric:

El Magnifico my nation my people my native land.
The land which born and natured me, Soviet be united.
My freedom land my beloved country the dream of El Magnifico.
Let us shout together, Soviet be united.

If you want to sing it, it’s easy as long as you know an Indonesian military song: …. Bhayangkara # I forgot the exact title.

Kegilaan seorang Victor Ivanov (bersamaku, teman gilanya) tidak berhenti disitu saja. Jika kami hendak melakukan sesuatu, setidaknya kami harus bertukar surat. Ini bukan surat biasa, surat resmi yang ada kop surat El Magnifico dan di stempel. Entah sekarang masih ada atau tidak keberadaan El Magnifico’s seal.

Mr. Ivanov dan penyanyinya, Ratna Kutznetsova kini telah hidup mengikuti perkembangan zaman dimana tidak lagi menggunakan surat melainkan smartphone. Merekapun sekarang telah bersosialisasi dan membaur dalam masyarakat dengan menanggalkan atribut kenegaraan mereka.

Sahabat, terima kasih atas kisah yang kau bagi denganku. Kisah hangat nan memikat dan mengikat erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s